Sabtu, 12 Februari 2011

Proses Penjernihan Air dengan Pretisipasi

Metode Pretisipasi
Metode presipitasi (pengendapan) merupakan salah satu metode pengolahan limbah yang banyak digunakan untuk memisahkan logam berat dari limbah cair. Dalam metode presipitasi kimia dilakukan penambahan sejumlah zat kimia tertentu untuk mengubah senyawa yang mudah larut ke bentuk padatan yang tak larut (Metcalf, 1991; Long , 1995).
Tiap-tiap logam memiliki karakteristik pH optimum presipitasi tersendiri, yaitu pH pada saat logam tersebut memiliki kelarutan minimum (Eckenfelder, 1989 ; Keenan, 1991). Oleh karena itu pada limbah yangmengandung beragam logam presipitasi dilakukan secara bertahap, yaitu dengan melakukan perubahan pH pada tiap tahapannya sehingga logam-logam tersebut dapat mengendap secara bertahap (Demopoulos, 1997).
Selain digunakan untuk mengolah limbah cair industry, metode presipitasi juga dapat digunakan dalam pengolahan kesadahan pada air. Kesadahan adalah keadaan dimana suatu perairan mengandung ion - ion Ca2+ dan Mg2+. Air yang sadah perlu diolah sebelum dikonsumsi, Pengolahannya adalah dengan cara softening (penyabunan) yang terdiri dari 2 macam jenis yaitu pertukaran ion dan presipitasi. Air bawah tanah (groundwater) pada umumnya lebih sadah daripada air permukaan tanah. Kesadahan yang tinggi dapat ditemukan di daerah yang keadaan geografisnya adalah batuan berkapur contohnya di daerah Gunung Kidul, Yogyakarta. Hal ini disebabkan CO2 yang ada didalam tanah akan melarutkan batu kapur tersebut dan batu kapur tersebut akan menguraikan ion kalsium (Ca2+). Kesadahan dinyatakan dalam satuan Meq/l (mili Equivalen per liter) atau mg/l sebagai CaCO3. derajat kesadahan di tunjukkan seperti dibawah ini
Kesadahan ( mg/L sebagai CaCO3 ) Tingkat kesadahan
1 – 75 Soft
75 – 150 Sedang
150 – 300 Sadah
> 300 Sangat sadah


Pengolahan Kesadahan
Presipitasi :
Proses kapur-soda abu
CO2 + Ca(OH)2  CaCO3 + H2O
Reaksi kalsium karbonat
Ca (HCO3)2 + Ca(OH)2  2 CaCO3 + 2 H2O
Reaksi Magnesium Karbonat
Mg (HCO3)2 + Ca(OH)2  CaCO3 + MgCO3 + 2 H2O
MgCO3 + Ca(OH)2  Mg(OH)2 + CaCO3
Magnesium Non karbonat
MgSO4 + Ca(OH)  Mg(OH)2 + CaSO4
Kalsium Non Karbonat
CaSO4 + Na2CO3  CaCO3 + Na2SO4
Kebutuhan bahan kimia.
Jenis kesadahan Kebutuhan kapur Kebutuhan soda abu
CO2 1x -
Ca karbonat 1x -
Ca – non karbonat - 1x
Mg karbonat 2x -
Mg – non karbonat 1x 1x


Variasi presipitasi proses kapur-soda abu
a. Pengolahan dengan kapur berlebih (excess-lime treatment)
Agar pengolahan berjalan optimal, terutama untuk presipitasi Magnesium, ditambahkan kapur berlebih kurang lebih sebanyak 35 mg.l CaO atau sekitar 1.25 meq/l

b. Split treatment
Sebagian air baku diolah dengan proses excess lime dan menetralisir kelebihan kapur dengan bagian dari air baku tersisa

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Share it